Kembali tentang museum, museum yang selama ini hanya dipandang sebagai tempat para benda mati, butuh inovasi agar dapat semakin kekinian. Tidak bisa hanya terus sebagai bahan kunjungan sekolah saja. Harus juga dapat menghibur sebagai bahan kunjungan rekreasi. Museum seharusnya mengandung unsur education, study, and enjoyment. Tetapi museum yang ada pada kita ini hanya mengandung education dan study saja. Kurang ada enjoyment-nya. Perlu dibuat suatu inovasi yang dapat membuat museum itu suatu tempat yang mengasikkan, dan layak dikunjungi setiap minggunya. Selain itu perlu diadakan sebuah zoning yang membedakan pelayanan pengunjung dewasa dan pengunjung anak-anak, misalkan dalam bentuk brosur yang berbeda dan pelayanan yang berbeda. Karena apa yang dibutuhkan oleh orang dewasa dalam berkunjung ke museum, berbeda dengan apa yang dibutuhkan oleh anak-anak.
Selain dari segi inovasi multimedia, hal dasar yang perlu diperhatikan di dalam museum ialah penataan barang-barang koleksi museumnya. Banyak museum yang hanya ingin menata koleksinya sepenuh mungkin, karena kalau kosong terasa hampa. Tetapi esensi dari museum itu sendiri justru adalah sebagai suatu tempat untuk merenung. Sehingga orang-orang butuh space di dalam museum itu untuk dapat merenung. Maka itu terkadang kehampaan itu justru perlu, agar orang dapat menikmati sambil merenungkan makna apa yang ada di dalam tiap-tiap benda yang terpampang di dalamnya. Jangan sampai orang merasa bahwa itu adalah toko kelontong, dimana segala barang dijejalkan sesesak-sesaknya.
Saran lain yang mungkin perlu dipikirkan mungkin mengenai patung manekin. Ada ya ng pernah melihat patung manekin manusia di museum, lengkap dengan wajah dan seluruh pakaiannya? Menurut anda apakah itu:
a. WOW keren!
b. Beli dimana ya?
c. Kumisnya baplang!
d. EMAAAKKK!! EMAAAAAAAK LAGI NGAPAIN DISANAAA??
e. Creepy...
Terkadang beberapa orang akan merasa seperti pada opsi [e] (yang jelas bukan [d]...), dimana suatu patung yang terlalu sempurna justru memiliki kesan horor tersendiri. Mungkin akan lebih baik jika digunakan media yang netral. Maksudnya netral disini jadi yang difokuskan hanya barang koleksi, manekinnya bisa dibuat bermuka rata ataupun tanpa kepala, seperti pada kebanyakan manekin toko-toko baju yang sering kita lihat di mal-mal.
Bukan untuk menjelek-jelekkan museum kita saat ini, tapi yang saya sampaikan disini ialah saran untuk membuat museum lebih baik. Secara pribadi, setelah mendatangi Museum Sri baduga kemarin, saya cukup merasa bahwa museum Indonesia sudah cukup baik kok. Tapi kalau bisa lebih baik lagi, kenapa tidak, ya toh? :D

0 ngobrolin:
Post a Comment